Konflik Dua Korea

Beberapa saat yang lalu kita masyarakat internasional dikagetkan oleh serangan artileri yang secara tiba-tiba dilakukan oleh Korea Utara (Democratic People’s Republic of Korea) terhadap Pulau Yeonpyeong yang berada di wilayah Korea Selatan (Republic of Korea). Setelah sebelumnya terjadi penenggelaman Kapal Cheonan di Lut Kuning milik Korsel yang diduga kuat tenggelamnya kapal tersebut akibat serang torpedo dari Korut. Untuk memahami sebenarnya apa yang menjadi sebab dari konflik dan ketegangan yang terjadi akhir-akhir ini di semenanjung korea, kita harus menilik terlebih dahulu sejarah yang terjadi di antara kedua negara sebelumnya.

Lahirnya Dua Pemimpin Besar

Pada awalnya Korea sejak 1905 telah dijajah oleh Jepang seiring dengan bangkitnya industrialisasi dan militerisme yang terjadi di Jepang. Ini adalah akibat dari Perjanjian Portsmouth yang dipaksakan Jepang terhadap raja Korea agar mengakui Jepang sebagai pelindungnya. Kemudian pada 1910 Jepang mengumumkan kepada dunia, aneksasi seluruh Korea. Dengan demikian sejak saat itu, Korea tidak lagi eksis sebagai sebuah negara tetapi menjadi bagian dari wilayah Jepang. Pada 1 Maret 1919 terjadi demonstrasi besar-besaran oleh sekitar 2 juta demonstran menyuarakan anti kolonial secara serentak di seluruh Korea. Mereka juga mengumumkan kemerdekaan Korea dari Jepang. Jepang bertindak keras dan brutal terhadap demonstrasi ini, sehingga menewaskan atau menghukum mati 10.500 orang, melukai dan menangkap puluhan ribu lainnya. Sehingga banyak dari tokoh perjuangan Korea yang lari keluar Korea. Kemudian pada perkembangannya timbul dua pejuang besar bangsa Korea yang berusaha untuk membebaskan Korea dari penjajahan Jepang.

Pejuang yang pertama adalah Syngman Rhee, dimana dia membentuk pemerintahan sementara Korea di China, yang awalnya berada di Shanghai dan akhirnya pindah ke Chungkin akibat serangan Jepang. Sedangkan pada saat itu Syngman Rhee sendiri mengasingkan diri ke AS dimana dia memperoleh gelar doktor dari Universitas Princeton, selanjutnya dia berjuang melalui jalur diplomatik. Walaupun akhirnya sia-sia karena tak ada negara lain yang mempedulikan nasib Korea.

Pejuang yang kedua adalah seorang gerilyawan muda bernama Kim Sung Chu yang mengambil nama Kim Il Sung sebagai nama perangnya, yang pada 1930-an juga terpaksa lari keluar Korea. Dia tadinya memimpin kelompok gerilyawan di Korea bagian utara dalam melawan Jepang. Kemudian ia pergi ke Uni Soviet dan bergabung dengan Tentara Merah dalam perang melawan Nazi Jerman. Selama Perang Dunia Ke-2  ia berpangkat mayor dan memimpin kontinen pasukan Korea dalam Angkatan Darat Soviet.

Sehingga dapat kita lihat, bahwa di dalam kelompok pejuang kemerdekaan Korea di pengasingan sendiri tebagi dalam dua kelompok besar. Kelompok yang pertama dipimpin Syngman Rhee, banyak dipengaruhi oleh nilai-nilai politik dan perekonomian Barat yang beraliran liberal. Kemudia kelompok yang kedua dipimpin Kim Il Sung, beraliran komunis yang menginginkan reformasi pertanahan, menasionalisasi semua industri dan penambangan, serta menghapuskan kelas-kelas tradisional dalam masyarakat Korea.

Terbentuknya Dua Korea

Apabila kita ingin mencari pihak yang harus disalahkan atas konflik yang terjadi di Korea saat ini. Maka jawaban saya yang bersalah adalah dua negara besar yang tergabung dalam pasukan Sekutu pada saat itu yaitu Amerika dan Uni Soviet. Mereka adalah biang keladi yang menyebabkan terpecahnya dua negara yang sebenarnya adalah satu bangsa ini, sama-sama bangsa Korea.

Seiring berjalannya Perang Dunia ke 2 yang akhirnya dimenangkan Sekutu dengan menyerahnya Jepang pada Agustus 1945, maka secara otomatis berakhir pula kekuasaan Jepang di Semenanjung Korea. Dalam salah satu syarat-syarat penyerahan tentara Jepang di Korea, yang dikeluarkan AS dengan Perintah Umum No. 1 mengenai syarat-syarat penyerahan tentara Jepang di Korea, dinyatakan di dalamnya agar seluruh pasukan Jepang yang berada di sebelah utara garis lintang ke-38 menyerahkan diri kepada tentara Uni Soviet, sedangkan yang di selatan garis kepada tentara AS, dan Stalin menyetujui hal ini. Tiba-tiba disini kita bisa melihat bahwa Korea sudah terbagi dua zona, di utara dikuasai tentara Uni Soviet dan di selatan dikuasai tentara AS.

AS sendiri pada September 1946 telah membawa persoalan penyatuan Korea ke PBB, yang kemudian Majelis Umum PBB mengeluarkan resolusi yang menyerukan pemilihan umum di Korea di bawah pengawasan Komisi Sementara PBB untuk Korea. Tetapi Uni Soviet yang sudah punya maksud untuk menyebarkan pengaruh di Korea, menolak kehadiran Komisi PBB di bagian utara Korea. Di bagian selatan pemilu tetap diadakan pada 10 Mei 1948 di bawah pengawasan PBB, kemudia terbentuklah Majelis Nasional yang menyusun dan menyetujui konstitusi, dimana pada 20 Juli Syngman Rhee diangkat sebagai presiden. Pada tanggal 15 Agustus 1948 Republik Korea atau yang dalam bahasa Korea Taehan Minkuk diproklamasikan, dan pemerintahan militer AS di Korea bagian selatan berakhir. Pada 12 Desember PBB mengakui republik tersebut sebagai satu-satunya pemerintahan yang resmi dan sah di Korea.

Menghadapi hal ini Soviet tidak tinggal diam. Kim Il Sung yang telah kembali bersama pasukan Uni Soviet, diminta Soviet untuk menyusun kekuatan yang didominasi kaum komunis. Pada 18 November 1947 dibentuklah Majelis Rakyat Tertinggi Korea yang kemudian membuat komisi untuk merancang Konstitusi. Dalam sidang pertama Majelis di Pyongyang rancangan konstitusi tersebut disahkan dan Kim Il Sung diangkat sebagai perdana menteri. Sehingga pada 9 September 1948 terbentuklah Republik Demokrasi Rakyat Korea atau yang dalam bahasa Korea Chosun Minjujui Inmun Konghwakuk, yang segera mendapat pengakuan dari Uni Soviet.

Perang Dimulai

Sebenarnya baik Korsel maupun Korut mencita-citakan persatuan kembali bangsa Korea. Namun Kim Il Sung telah menyimpulkan bahwa penyatuan hanya mungkin melalui kekerasan. Sedangkan Korsel masih disibukkan dengan pertikaian politik di dalam negeri yang semakin dominan dan kondisi ekonomi yang semakin sulit, sehingga tingkat kewaspadaan dan pembangunan kekuatan militerpun merosot. Kemudian pada subuh pukul 04.00 hari Minggu 25 Juni 1950, pasukan Korut didukung tank-tank menyebrangi garis lintang ke-38 dan memulai invasi ke selatan. Perjalanan perang selanjutnya tidak akan saya jelaskan panjang lebar, pembaca dapat membaca buku-buku tentang Perang Korea yang banyak terdapat di pasaran. Saya hanya akan menjelaskan garis besar jalannya pertempuran saja.

Setelah dimulainya invasi, Korut berhasil merebut Seoul dan mendesak pasukan Korsel hingga ke Parimeter Pusan 150km di selatan Seoul yang dipertahankan oleh pasukan Korsel dan pasukan AS yang didatangkan dari Jepang. Kemudian titik balik peperangan tiba saat pasukan PBB dibawah pimpinan MacArthur mendarat di kota pelabuhan Inchon (sebelah utara kota Seoul) melalui serangan amfibi. Dengan begitu terputuslah pasokan logistik bagi pasukan Korut yang sedang mengepung parimeter Pusan dari Korea Utara. Seoul berhasil direbut kembali oleh pasukan PBB pada 28 September 1950. Pasukan PBB terus mendesak ke utara dan merebut Pyongyang pada 20 Oktober 1950. Mereka berhasil mendesak pasukan komunis sampai ke perbatasan Korut-China di Manchuria.

Tetapi kemudian pada 25 November 1950 ada pasukan komunis lain yang menghantam pasukan PBB di utara, bukan Korut melainkan China. China yang merasa wilayahnya terancam karena pergerakan pasukan PBB tersebut segera mengirimkan ratusan ribu pasukannya untuk membantu sekutunya yang sama-sama berideologi komunis tersebut dan berhasil merebut kembali Pyongyang pada 4 Desember 1950. Kemudian berhasil mendesak terus pasukan PBB hingga Seoul kembali jatuh ke tangan komunis. Walaupun akhirnya pasukan PBB pada Januari 1951 berhasil menangkal serangan pasukan China dan merebut kembali Seoul, tetapi akhirnya terjadilah peperangan yang cukup statis seperti di Bloddy Ridge dan Triangle Hill tetapi dengan jumlah korban yang “gila-gilaan” di kedua belah pihak. Peperangan ini berlangsung sampai Juli 1953.

 

Dimulainya Perundingan

Yang unik dari perundingan yang terjadi di Korea ini adalah bahwa apabila biasanya perundingan perdamaian biasanya terjadi setelah musuh berhasil dikalahkan dan pembunuhan telah berhenti. Namun di pengujung konflik Korea, tidak seperti itu. Pembicaraan perdamaian dimulai 10 Juni 1951 di kota kecil Kesong yang akhirnya dipindahkan ke Pamunjom, dimana lebih karena tekanan dari Uni Soviet dan PBB. Tim Negosiasi PBB  dipimpin oleh Adm. Turner Joy, panglima AL di bawah Jenderal Ridgway. Mereka berkonfrontasi dalam perundingan dengan jenderal-jenderal China seperti, Hsieh Fang dan Teng Hua, dan tiga jenderal Korea yaitu, Nam Il, Lee Sang Cho, dan Chang Pyong San.

Perundingan di Pamunjom ini merupakan salah satu dari peristiwa paling aneh dan memakan waktu dalam sejarah diplomatis. Perundingan berlangsung sementara fase paling keji dan destruktif dalam perang Korea terjadi. Dari Juli hingga November 1951, selama pertempuran di ridge line, hampir 60.000 korban pasukan PBB. Sebanyak 22.000 diantaranya adalah prajurit Amerika dan hampir 234.000 korban di pihak Korut dan China. Perundingan ini sendiri molor hingga 25 bulan. Bahkan Admiral Joy menggambarkan kecepatan jalannya perundingan seperti mengaduk adonan semen yang keras. Perdamaian sulit dicapai karena perbedaan substansi yang terus memecah kedua belah pihak. Tidak ada satupun pihak yang mau memberi keuntungan bagi pihak lain dalam konflik ideologi yang berlangsung.

Akhirnya pada April 1953, negosiator PBB dan komunis akhirnya mencapai kesepakatan pertama mengenai POW (Prisioneer of War), pada bulan Juni kedua pihak setuju untuk membentuk Neutral Nations Repatriation Commission untuk mengawasi pengembalian tawanan perang.

Akhirnya perang Korea berakhir tanpa jelas siapa yang menang dan siapa yang kalah. Perdamaian ditandatangani pada 27 Juli 1953. Korea tetap terbagi dua diantara garis parallel ke 38. Korut kehilangan wilayah sekitar 21.000 mil persegi. Perbedaan politik antara dua sisi Korea terus meracuni hubungan antara keduanya. Pamunjom, desa dimana tempat penandatanganan perdamaian berlangsung, secara de facto menjadi perbatasan antara Korea Utara dan Korea Selatan, kemudian terbentuklah Military Demarcation Line, dimana di dekatnya terdapat JSA (Joint Security Area) dimana diskusi antara Utara dan Selatan masih sering terjadi di gedung biru di sisi-sisi Military Demarcation Line.

Kesimpulan

Pada saat ini hampir 60 tahun setelah Perang Korea, hubungan antara Korsel dan Korut tetap suram. Potensi perang bahkan bisa sewaktu-waktu meletus karena alasan yang sangat tidak jelas. Seperti yang terjadi akhir-akhir ini di Pulau Yeonpyeong dimana Korut mengancam akan mengadakan serangan dengan skala besar ke Selatan, dan Amerika kembali menempatkan armadanya di Laut Kuning. Yang pasti gencatan senjata Korsel-Korut masih bisa pecah sewaktu-waktu sebelum tercapainya rekonsiliasi dan unifikasi Korea yang hingga saat ini nampaknya semakin sulit untuk terwujud.

 

Tentang bichunclafor

Seorang Mahasiswa dan pemikir yang ingin membebaskan orang-orang yang terdiskriminasi dengan cara apapun..!!
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s