Berbagai Cara Mempelajari Pluralisme

Berbagai Cara Mempelajari Pluralisme

Kalau boleh dibilang ini mungkin sekuel kedua tulisan saya mengenai pluralisme dan multikulturalisme (tulisan yang pertama bisa dilihat di notes saya). Mengangkat tulisan ini sebenarnya sudah bukan hal yang baru bagi saya karena sudah lama saya mempelajari dan membaca tulisan-tulisan mengenai pluralisme. Akan tetapi saya mau mengangkatnya lagi sekarang karena masyarakat dikejutkan kembali oleh kejadian yang terjadi di Bekasi akhir-akhir ini yang meimpa jemaat HKBP dan sekarang kembali menimbulkan pertanyaan “Masihkah ada toleransi di negeri ini?”. Saya sendiri beranggapan sebenarnya banyak masyarakat yang masih memperjuangkan toleransi dan pluralisme di Indonesia melalui caranya masing-masing. Yang ingin saya garis bawahi disini adalah “melalui caranya masing-masing”. Inilah yang membuat saya ingin berbagi ide dan pengalaman melalui tulisan ini.

Selama ini kita mengetahui bahwa gerakan anti diskriminasi dan pluralisme yang kita lihat di berita-berita baik cetak maupun elektronik banyak dilakukan oleh aktivis-aktivis HAM yang bergerak di bidang advokasi dan kebijakan. Mereka melakukannya melalui tulisan-tulisan dan diskusi-diskusi publik yang dilakukan di ruang-ruang publik baik secara formal maupun informal. Tengok saja lembaga-lembaga non-pemerintah (NGO) yang banyak melakukan gerakan ini seperti Setara Institute, Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika (ANBTI),  dan Lembaga Bantuan Hukum (YLBHI, LBHJ, dan LBHM) yang banyak tersebar di Indonesia khususnya di kota-kota besar. Namun saat ini saya tidak akan membahas gerakan pluralisme dan HAM yang dilakukan oleh lembaga-lembaga tersebut, tapi saya akan membahas gerakan yang dilakukan oleh para seniman dan para pelaku industri kreatif.

Apabila saya melakukan kilas balik sebentar ke masa remaja saya ketika di Bandung. Saat itu saya sebenarnya bukanlah orang yang senang memikirkan hal-hal serius seperti ini. Ketika itu saya lebih suka hangoutbersama teman-teman, pergi ke festival-festival seni yang banyak sekali jumlah acaranya di kota Bandung, dan yang terutama saya maniak dengan segala sesuatu yang berbau indie, baik musik, film, ataupun majalah yang memang banyak jumlahnya di kota Bandung. Di salah satu pentas seni saya melihat grup yang bernama Superman Is Dead (SID) asal Bali yang membawakan lagu-lagu yang berjudul “Kuat Kita Bersama” ataupun “Luka Indonesia”, dimana dalam liriknya kaya akan pesan-pesan tentang kemajemukan bangsa dan pesan-pesan perdamaian. Pada saat  itu saya tidak benar-benar memikirkan liriknya tetapi malah sibukmossing (saling membenturkan badan dengan penonton lain) dan berteriak-teriak mengulangi liriknya tanpa peduli akan makna didalamnya.  Apa itu pluralisme, multikulturalisme, kemajemukan, dan perdamaian saya tidak begitu peduli pada saat itu saya hanya sibuk menikmati lagunya yang ber-genre punk rock.

Lalu masa-masa indah itupun berganti saya merantau ke Depok dan kuliah di FHUI di sana saya belajar tentang hukum dan mencoba untuk menjadi volunteer di salah satu LBH untuk menambah pengalaman, bikin tulisan dan penelitian kecil-kecilan di kampus, pada saat itu ketika saya membuat salah satu tulisan tentang perda-perda yang ada di Indonesia saya terbelalak dengan begitu banyaknya perda yang sangat mendiskriminasi kaum minoritas yang ada di negeri ini. Tapi bukan itu yang membuat saya begitu tergugah dengan kondisi bangsa yang semakin intoleran sekarang ini. Tetapi sebuah film indie dari Bandung yang berjudul cin(T)a yang dibuat oleh sebuah industri kreatif di Bandung film itu bercerita sesuatu hal yang tidak berani diangkat oleh film-film lain yaitu mengangkat hal kerukunan beragama dengan berbagai macam problema yang di alami oleh sebagian masyarakat yang ada di negeri ini seperti kesempatan yang tidak sama bagi minoritas dan tidak terkecuali dalam hal percintaan beda agama (yang mau download filmnya bisa dihttp://www.pandumusica.info/2010/04/download-film-cinta.html). Di film tersebut dengan cerdas sang sutradara tidak melakukan pendangkalan makna, dan berhasil membawa kita kepada realita yang  benar-benar ada dan nyata di tengah-tengah masyarakat kita.

Dengan tulisan ini saya ingin mengangkat bagaimana kondisi kemajemukan bangsa dan pluralisme yang ada di Indonesia tidak hanya bisa dipelajari melalui buku dan berita tetapi juga bisa melalui musik, film dan karya seni lainnya. Well semoga bermanfaat😉

Tentang bichunclafor

Seorang Mahasiswa dan pemikir yang ingin membebaskan orang-orang yang terdiskriminasi dengan cara apapun..!!
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s