Prospek Bisnis Masa Depan, Perdagangan Senjata dan Pembiayaan Perang

Prospek Bisnis Masa Depan, Perdagangan Sejata dan Pembiayaan Perang

Tulisan ini saya buat ketika mengetahui bahwa ada Expo Wirausaha Muda Mandiri yang diselenggarakan oleh salah satu Bank terkemuka di Indonesia. Acara itu diselenggarakan untuk menumbuhkan minat wirausaha di dalam jiwa para pemuda Indonesia. Tentu kita semua sadar bahwa untuk memulai sebuah wirausaha kita harus mengetahui bisnis seperti apa yang akan kita lakukan dan barang apa yang akan kita jual (the stuff we sale). Berangkat dari cita-cita masa kecil saya untuk menjadi penjual senjata tingkat Internasional dan hobi saya sebagai pemerhati dunia kemiliteran dan sejarah perang. Saya melihat suatu prospek bisnis yang mungkin tidak banyak anak muda Indonesia yang melihatnya sebagai sebuah peluang yang bisa menghasilkan keuntungan, tetapi dalam hal ini saya melihatnya bukan hanya sebagai bisnis yang bisa menghasilkan uang tetapi juga sebagai sebuah cara bagi diri kita untuk bisa merasakan bagaimana rasanya mengatur jalannya sejarah umat manusia di tangan kita sendiri, dimana dalam bisnis ini kita bisa mengatur hidup matinya seorang manusia, nasib sebuah bangsa, berdiri atau runtuhnya sebuah negara, bahkan keberlangsungan sebuah ideologi, tentu untuk melakukan itu semua tidak bisa dilakukan dengan sembarang cara mengingat tidak banyak orang atau bahkan negara sekalipun yang bisa melakukannya kecuali Amerika dan Presidennya dan mungkin Cina sebentar lagi, apabila negara tersebut terus mendapat kemajuan dan konsisten dengan kekuatannya seperti sekarang (sepengamatan saya selama ini). Untuk itu saya akan memberikan beberapa contoh orang-orang yang telah berhasil melakukan bisnis ini dan potensi yang ada di dalam negara kita (Indonesia) yang bisa kita jadikan sebuah modal yang kelak bisa kita gunakan. Mengingat sebenarnya negara kita punya potensi untuk itu dan sudah ada modalnya tapi sayang sekali sangat sedikit atau bisa saya katakan tidak pernah ada orang di Indonesia yang berminat untuk menekuni bisnis ini padahal menurut saya ini sungguh potensi yang sangat besar, sayang kalau disia-siakan seperti sekarang. Kita harus mulai melihat sebuah peperangan secara komperhensif. Perang tidak hanya saling bunuh atau saling menjatuhkan diantara pihak-pihak yang bertikai. Kita harus bisa menyelami makna dari sebuah peperangan sehingga kita bisa melihat dengan jernih potensi yang ada dari kekeruhan sebuah peperangan.

Setelah melalui riset yang cukup mendalam dari beberapa buku yang saya baca (mulai sejak SMA sampai sekarang) ini adalah bahan-bahan yang bisa saya sajikan untuk saat ini, mengingat saya membuat tulisan ini mendadak disaat waktu liburan panjang yang senggang, semoga bermanfaat. ^__^
Tak lengkap rasanya bagi saya yang mempelajari sejarah perang tanpa mengetahui kisah-kisah yang ada di balik layar dari perang tersebut. Salah satunya yang saya pelajari adalah sepak terjang orang-orang yang diam-diam mengendalikan sebuah peperangan. Berdasar telaah yang saya pelajari selama ini saya menemukan beberapa nama yang mempunyai andil besar dalam mengobarkan sebuah peperangan diantaranya adalah JP Morgan, Jr., John D. Rockefeller, Rochtschild, dan Paul Warburg. Orang-orang ini bukanlah jenderal perang yang tahu bagaimana cara berperang, merekapun bukan seorang pimpinan pemerintahan atau politikus yang pandai menggertak di panggung diplomasi, tapi tanpa kita sadari mereka telah mempengaruhi sejarah umat manusia hingga menjadi seperti sekarang ini. Mereka adalah bankir kelas dunia yang fasih melempar dadu dan mendulang untung dari peperangan. Orang-orang ini melakukan bisnis berupa membeli dan memperbaiki senjata dan peralatan tempur, serta mendatangkan peralatan pendukung lainnya, barang-barang tersebut bisanya mereka berikan berupa dana talangan dan tentu dana talangan ini ada bunganya (yang cukup besar). Sebagai contoh dalam Perang Dunia 1 (The Great War) dana yang mengalir ditaksir mencapai miliaran dollar. Para bankir ini sama sekali tak khawatir kehilangan uangnya, karena merekalah yang menentukan siapa yang menang dan dan kapan perang itu berakhir (bayangkan bila anda mempunyai kemampuan untuk itu). Dimata mereka perang memang tak ubahnya sebagai mesin pemutar uang. Memang ini terdengar seperti teori konspirasi tapi seperti yang kita pelajari apabila ingin mengungkap suatu fakta/peristiwa, dalam ilmu hukum, akuntansi atau kepolisian kita mengenal yang namanya tahap penyelidikan, dan yang perlu kita selidiki disini “Cukup ikuti saja kemana arah jalannya uang tersebut, maka Anda akan menemukan jalan ke arah itu…” . Dan dari data-data yang saya baca memang ada aliran dana pada masa perang yang mengalir dari konglomerat-konglomerat tersebut.

John Pierpont “Jack Morgan”, Jr.
Orang lulusan Harvard sekaligus putra dari JP Morgan, Sr, ini tak lain adalah konglomerat dan bankir papan atas di Amerika. JP Morgan adalah pemilik utama perusahaan baja terkemuka di dunia, US Steel Corp, pemilik General Electric, grup perusahaannya berlogo JP Morgan& Co. Semasa perang Sipil Amerika ia pernah menjual senjata kepada pihak militer dengan harga miring, 22 dollar per pucuk. Setelah ditelusuri senjata-senjata ini ternyata merupakan senjata rekondisi yang pernah ia beli dari pejabat militer seharga 3,5 dollar per pucuk. Ia juga adalah penyandang utama ongkos PD 1, yang oleh karenanya sering dikatakan bahwa tanpa dirinya PD 1 tidak akan bisa disebut “The Great War”. Lalu tak lama setelah perang meletup ia juga menggelontorkan pinjaman kepada Rusia sebesar 12 juta US dollar. Setahun kemudian, pada 1915, ia juga memberikan pinjaman kepada Perancis sebesar 50 juta US dollar. Bahkan dia pula yang menalangi seluruh pembelian senjata yang dilakukan pemerintah Inggris di berbagai perusahaan di AS. Di samping itu, dengan 2200 bank yang ada dalam sindikasinya, ia masih memberikan dana talangan sebesar 500 juta US dollar kepada pasukan Sekutu agar berhasil mencapai kemenangan.
Paul Warburg
Pendiri Bank Sentral AS ini sendiri adalah pemilik dari General Motors, IG Farben, dan Standard Oil. Pada dasawarsa 30an dia memberikan bantan finansial yang sangat besar kepada Hitler dan Nazi Jerman. Dukungannya dapat dilihat dari Interessen Gemeinschaft Farbenindustrie AG yang didirikan pada 25 Desember 1925 yang digunakan untuk mendukung ambisi ekspansi militer NAZI Jerman yang digunakan untuk memperkuat kekuatannya di tanah Eropa. Industri-industri ini sekarang bernama BASF, Bayer, Hoechast, AGFA, Griesheim-Elektron dan Weiler Ter Meer.

Alutsista Dalam Negeri Prospek Bisnis Masa Depan
Tanpa kita sadari selama ini bangsa Indonesia telah mempunyai beberapa Industri yang menghasilkan produk-produk senjata dan perlengkapannya yang kualitasnya sudah diakui oleh dunia Internasional. Industri-industri tersebut adalah PT PAL, PT Pindad, PT Dahana, PT DI, yang semuanya merupakan Badan Usaha Milik Negara Industri Strategis (BUMNIS). Keempat perusahaan negara ini telah menghasilkan beragam alat utama sistem senjata (alutsista) yang dioperasikan oleh TNI dan juga POLRI. Misalnya PT Pindad telah menghasilkan senapan serbu SS1 dan penerusnya SS2 berkaliber 12,7mm serta PTDI yang telah menghasilkan pesawat CN-235 (Maritime Patrol Aircraft) dilengkapi dengan Radar Warning Receiver, Chaff Flare Dispenser System, alat bantu Navigasi TCAS dan NC-212 yang dilengkapi dengan search radar, FLIR, Tactical Coordinator Console (TACCO), FMS, IRS/GPS, data handling, handled camera bahkan PTDI sekarang memulai produksi rudal SUT yang digunakan sebagai torpedo kapal selam. Bahkan seperti yang diketahui baru-baru ini Pindad memproduksi 145 keandaraan personel Panser APS 6X6 Anoa yang mempunyai ketebalan baja 8mm dan 10mm. Bahkan yang lebih mengagumkan PT PAL sekarang sudah mengembangkan FPB (Fast Boat Patrol) 60 yang mempunyai konsep sebagai kapal siluman (stealth).

Inilah teman-teman aset dan kesempatan yang harus kita manfaatkan. Apakah kita ingin terus tertinggal dengan negara-negara maju yang sudah menyadari betapa penting persenjataan sebagai sebuah kekuatan baik dari sisi ekonomi maupun politik. Memang kita ingin dibilang sebagai orang yang cinta damai, tapi ingat motto mafia Italy yang terkenal “Pisahkan perasaan pribadi dan kepentingan bisnis..”
Semoga bermanfaat dan membuka wawasan.. ^_^

Tentang bichunclafor

Seorang Mahasiswa dan pemikir yang ingin membebaskan orang-orang yang terdiskriminasi dengan cara apapun..!!
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s