Konflik Dua Korea

Beberapa saat yang lalu kita masyarakat internasional dikagetkan oleh serangan artileri yang secara tiba-tiba dilakukan oleh Korea Utara (Democratic People’s Republic of Korea) terhadap Pulau Yeonpyeong yang berada di wilayah Korea Selatan (Republic of Korea). Setelah sebelumnya terjadi penenggelaman Kapal Cheonan di Lut Kuning milik Korsel yang diduga kuat tenggelamnya kapal tersebut akibat serang torpedo dari Korut. Untuk memahami sebenarnya apa yang menjadi sebab dari konflik dan ketegangan yang terjadi akhir-akhir ini di semenanjung korea, kita harus menilik terlebih dahulu sejarah yang terjadi di antara kedua negara sebelumnya.

Lahirnya Dua Pemimpin Besar

Pada awalnya Korea sejak 1905 telah dijajah oleh Jepang seiring dengan bangkitnya industrialisasi dan militerisme yang terjadi di Jepang. Ini adalah akibat dari Perjanjian Portsmouth yang dipaksakan Jepang terhadap raja Korea agar mengakui Jepang sebagai pelindungnya. Kemudian pada 1910 Jepang mengumumkan kepada dunia, aneksasi seluruh Korea. Dengan demikian sejak saat itu, Korea tidak lagi eksis sebagai sebuah negara tetapi menjadi bagian dari wilayah Jepang. Pada 1 Maret 1919 terjadi demonstrasi besar-besaran oleh sekitar 2 juta demonstran menyuarakan anti kolonial secara serentak di seluruh Korea. Mereka juga mengumumkan kemerdekaan Korea dari Jepang. Jepang bertindak keras dan brutal terhadap demonstrasi ini, sehingga menewaskan atau menghukum mati 10.500 orang, melukai dan menangkap puluhan ribu lainnya. Sehingga banyak dari tokoh perjuangan Korea yang lari keluar Korea. Kemudian pada perkembangannya timbul dua pejuang besar bangsa Korea yang berusaha untuk membebaskan Korea dari penjajahan Jepang.

Pejuang yang pertama adalah Syngman Rhee, dimana dia membentuk pemerintahan sementara Korea di China, yang awalnya berada di Shanghai dan akhirnya pindah ke Chungkin akibat serangan Jepang. Sedangkan pada saat itu Syngman Rhee sendiri mengasingkan diri ke AS dimana dia memperoleh gelar doktor dari Universitas Princeton, selanjutnya dia berjuang melalui jalur diplomatik. Walaupun akhirnya sia-sia karena tak ada negara lain yang mempedulikan nasib Korea.

Pejuang yang kedua adalah seorang gerilyawan muda bernama Kim Sung Chu yang mengambil nama Kim Il Sung sebagai nama perangnya, yang pada 1930-an juga terpaksa lari keluar Korea. Dia tadinya memimpin kelompok gerilyawan di Korea bagian utara dalam melawan Jepang. Kemudian ia pergi ke Uni Soviet dan bergabung dengan Tentara Merah dalam perang melawan Nazi Jerman. Selama Perang Dunia Ke-2  ia berpangkat mayor dan memimpin kontinen pasukan Korea dalam Angkatan Darat Soviet.

Sehingga dapat kita lihat, bahwa di dalam kelompok pejuang kemerdekaan Korea di pengasingan sendiri tebagi dalam dua kelompok besar. Kelompok yang pertama dipimpin Syngman Rhee, banyak dipengaruhi oleh nilai-nilai politik dan perekonomian Barat yang beraliran liberal. Kemudia kelompok yang kedua dipimpin Kim Il Sung, beraliran komunis yang menginginkan reformasi pertanahan, menasionalisasi semua industri dan penambangan, serta menghapuskan kelas-kelas tradisional dalam masyarakat Korea.

Terbentuknya Dua Korea

Apabila kita ingin mencari pihak yang harus disalahkan atas konflik yang terjadi di Korea saat ini. Maka jawaban saya yang bersalah adalah dua negara besar yang tergabung dalam pasukan Sekutu pada saat itu yaitu Amerika dan Uni Soviet. Mereka adalah biang keladi yang menyebabkan terpecahnya dua negara yang sebenarnya adalah satu bangsa ini, sama-sama bangsa Korea.

Seiring berjalannya Perang Dunia ke 2 yang akhirnya dimenangkan Sekutu dengan menyerahnya Jepang pada Agustus 1945, maka secara otomatis berakhir pula kekuasaan Jepang di Semenanjung Korea. Dalam salah satu syarat-syarat penyerahan tentara Jepang di Korea, yang dikeluarkan AS dengan Perintah Umum No. 1 mengenai syarat-syarat penyerahan tentara Jepang di Korea, dinyatakan di dalamnya agar seluruh pasukan Jepang yang berada di sebelah utara garis lintang ke-38 menyerahkan diri kepada tentara Uni Soviet, sedangkan yang di selatan garis kepada tentara AS, dan Stalin menyetujui hal ini. Tiba-tiba disini kita bisa melihat bahwa Korea sudah terbagi dua zona, di utara dikuasai tentara Uni Soviet dan di selatan dikuasai tentara AS.

AS sendiri pada September 1946 telah membawa persoalan penyatuan Korea ke PBB, yang kemudian Majelis Umum PBB mengeluarkan resolusi yang menyerukan pemilihan umum di Korea di bawah pengawasan Komisi Sementara PBB untuk Korea. Tetapi Uni Soviet yang sudah punya maksud untuk menyebarkan pengaruh di Korea, menolak kehadiran Komisi PBB di bagian utara Korea. Di bagian selatan pemilu tetap diadakan pada 10 Mei 1948 di bawah pengawasan PBB, kemudia terbentuklah Majelis Nasional yang menyusun dan menyetujui konstitusi, dimana pada 20 Juli Syngman Rhee diangkat sebagai presiden. Pada tanggal 15 Agustus 1948 Republik Korea atau yang dalam bahasa Korea Taehan Minkuk diproklamasikan, dan pemerintahan militer AS di Korea bagian selatan berakhir. Pada 12 Desember PBB mengakui republik tersebut sebagai satu-satunya pemerintahan yang resmi dan sah di Korea.

Menghadapi hal ini Soviet tidak tinggal diam. Kim Il Sung yang telah kembali bersama pasukan Uni Soviet, diminta Soviet untuk menyusun kekuatan yang didominasi kaum komunis. Pada 18 November 1947 dibentuklah Majelis Rakyat Tertinggi Korea yang kemudian membuat komisi untuk merancang Konstitusi. Dalam sidang pertama Majelis di Pyongyang rancangan konstitusi tersebut disahkan dan Kim Il Sung diangkat sebagai perdana menteri. Sehingga pada 9 September 1948 terbentuklah Republik Demokrasi Rakyat Korea atau yang dalam bahasa Korea Chosun Minjujui Inmun Konghwakuk, yang segera mendapat pengakuan dari Uni Soviet.

Perang Dimulai

Sebenarnya baik Korsel maupun Korut mencita-citakan persatuan kembali bangsa Korea. Namun Kim Il Sung telah menyimpulkan bahwa penyatuan hanya mungkin melalui kekerasan. Sedangkan Korsel masih disibukkan dengan pertikaian politik di dalam negeri yang semakin dominan dan kondisi ekonomi yang semakin sulit, sehingga tingkat kewaspadaan dan pembangunan kekuatan militerpun merosot. Kemudian pada subuh pukul 04.00 hari Minggu 25 Juni 1950, pasukan Korut didukung tank-tank menyebrangi garis lintang ke-38 dan memulai invasi ke selatan. Perjalanan perang selanjutnya tidak akan saya jelaskan panjang lebar, pembaca dapat membaca buku-buku tentang Perang Korea yang banyak terdapat di pasaran. Saya hanya akan menjelaskan garis besar jalannya pertempuran saja.

Setelah dimulainya invasi, Korut berhasil merebut Seoul dan mendesak pasukan Korsel hingga ke Parimeter Pusan 150km di selatan Seoul yang dipertahankan oleh pasukan Korsel dan pasukan AS yang didatangkan dari Jepang. Kemudian titik balik peperangan tiba saat pasukan PBB dibawah pimpinan MacArthur mendarat di kota pelabuhan Inchon (sebelah utara kota Seoul) melalui serangan amfibi. Dengan begitu terputuslah pasokan logistik bagi pasukan Korut yang sedang mengepung parimeter Pusan dari Korea Utara. Seoul berhasil direbut kembali oleh pasukan PBB pada 28 September 1950. Pasukan PBB terus mendesak ke utara dan merebut Pyongyang pada 20 Oktober 1950. Mereka berhasil mendesak pasukan komunis sampai ke perbatasan Korut-China di Manchuria.

Tetapi kemudian pada 25 November 1950 ada pasukan komunis lain yang menghantam pasukan PBB di utara, bukan Korut melainkan China. China yang merasa wilayahnya terancam karena pergerakan pasukan PBB tersebut segera mengirimkan ratusan ribu pasukannya untuk membantu sekutunya yang sama-sama berideologi komunis tersebut dan berhasil merebut kembali Pyongyang pada 4 Desember 1950. Kemudian berhasil mendesak terus pasukan PBB hingga Seoul kembali jatuh ke tangan komunis. Walaupun akhirnya pasukan PBB pada Januari 1951 berhasil menangkal serangan pasukan China dan merebut kembali Seoul, tetapi akhirnya terjadilah peperangan yang cukup statis seperti di Bloddy Ridge dan Triangle Hill tetapi dengan jumlah korban yang “gila-gilaan” di kedua belah pihak. Peperangan ini berlangsung sampai Juli 1953.

 

Dimulainya Perundingan

Yang unik dari perundingan yang terjadi di Korea ini adalah bahwa apabila biasanya perundingan perdamaian biasanya terjadi setelah musuh berhasil dikalahkan dan pembunuhan telah berhenti. Namun di pengujung konflik Korea, tidak seperti itu. Pembicaraan perdamaian dimulai 10 Juni 1951 di kota kecil Kesong yang akhirnya dipindahkan ke Pamunjom, dimana lebih karena tekanan dari Uni Soviet dan PBB. Tim Negosiasi PBB  dipimpin oleh Adm. Turner Joy, panglima AL di bawah Jenderal Ridgway. Mereka berkonfrontasi dalam perundingan dengan jenderal-jenderal China seperti, Hsieh Fang dan Teng Hua, dan tiga jenderal Korea yaitu, Nam Il, Lee Sang Cho, dan Chang Pyong San.

Perundingan di Pamunjom ini merupakan salah satu dari peristiwa paling aneh dan memakan waktu dalam sejarah diplomatis. Perundingan berlangsung sementara fase paling keji dan destruktif dalam perang Korea terjadi. Dari Juli hingga November 1951, selama pertempuran di ridge line, hampir 60.000 korban pasukan PBB. Sebanyak 22.000 diantaranya adalah prajurit Amerika dan hampir 234.000 korban di pihak Korut dan China. Perundingan ini sendiri molor hingga 25 bulan. Bahkan Admiral Joy menggambarkan kecepatan jalannya perundingan seperti mengaduk adonan semen yang keras. Perdamaian sulit dicapai karena perbedaan substansi yang terus memecah kedua belah pihak. Tidak ada satupun pihak yang mau memberi keuntungan bagi pihak lain dalam konflik ideologi yang berlangsung.

Akhirnya pada April 1953, negosiator PBB dan komunis akhirnya mencapai kesepakatan pertama mengenai POW (Prisioneer of War), pada bulan Juni kedua pihak setuju untuk membentuk Neutral Nations Repatriation Commission untuk mengawasi pengembalian tawanan perang.

Akhirnya perang Korea berakhir tanpa jelas siapa yang menang dan siapa yang kalah. Perdamaian ditandatangani pada 27 Juli 1953. Korea tetap terbagi dua diantara garis parallel ke 38. Korut kehilangan wilayah sekitar 21.000 mil persegi. Perbedaan politik antara dua sisi Korea terus meracuni hubungan antara keduanya. Pamunjom, desa dimana tempat penandatanganan perdamaian berlangsung, secara de facto menjadi perbatasan antara Korea Utara dan Korea Selatan, kemudian terbentuklah Military Demarcation Line, dimana di dekatnya terdapat JSA (Joint Security Area) dimana diskusi antara Utara dan Selatan masih sering terjadi di gedung biru di sisi-sisi Military Demarcation Line.

Kesimpulan

Pada saat ini hampir 60 tahun setelah Perang Korea, hubungan antara Korsel dan Korut tetap suram. Potensi perang bahkan bisa sewaktu-waktu meletus karena alasan yang sangat tidak jelas. Seperti yang terjadi akhir-akhir ini di Pulau Yeonpyeong dimana Korut mengancam akan mengadakan serangan dengan skala besar ke Selatan, dan Amerika kembali menempatkan armadanya di Laut Kuning. Yang pasti gencatan senjata Korsel-Korut masih bisa pecah sewaktu-waktu sebelum tercapainya rekonsiliasi dan unifikasi Korea yang hingga saat ini nampaknya semakin sulit untuk terwujud.

 

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Revitalisasi Industri Strategis Pertahanan Nasional

Revitalisasi Industri Strategis Pertahanan Nasional

Oleh, Gede Aditya Pratama

Disampaikan dalam Rangkaian Acara Seminar SIMI, di Lingkungan FHUI

“Bahwa satu-satunja hak milik Nasional Republik jang masih utuh tidak berubah-ubah, meskipun harus mengalami segala matjam soal dan perubahan, hanjalah Angkatan Perang Republik Indonesia (Tentara Nasional Indonesia).”

– Surat Panglima Besar Jenderal Sudirman kepada Presiden Soekarno, 1 Agustus 1949. –

Indonesia adalah negara besar yang luas wilayahnya terbentang sepanjang 3.977 mil antara Samudera Hindia dan Samudera Pasifik dan terdiri dari 17.508 pulau. Oleh karenanya Indonesia menjadi salah satu negara penting yang memiliki arti strategis dan taktis tersendiri karena berada di posisi yang amat strategis yaitu di antara dua benua dan dua samudera, yang dimana di dalamnya terkandung berbagai macam kekayaan alam yang melimpah. Tentu untuk bisa memanfaatkan dan memainkan peran Indonesia sebagai negara yang besar, diperlukan instrumen pertahanan yang kuat. Instrumen pertahanan yang kuat selain dimanfaatkan untuk menjaga kedaulatan dan keamanan negara, bisa juga digunakan sebagai bargaining posisition dalam diplomasi dengan negara-negara lain.

Untuk membangun pertahanan yang kuat diperlukan industri pertahanan yang mampu menyokong kebutuhan pertahanan dalam negeri. Negara yang tidak mampu menyediakan kebutuhan pertahanannya sendiri dan terus bergantung pada supply alat pertahanan dari luar negeri, tidak akan menjadi negara yang mandiri karena suatu waktu bisa saja hubungan kita dengan negara dimana alat-alat pertahanan kita berasal memburuk, seperti yang terjadi pada saat Amerika memberikan embargo militernya terhadap Indonesia akibat kasus penghilangan aktivis Timor Leste tahun 1997-1998 oleh Kopassus. Pada saat itu kita “kelimpungan” bagaimana melakukan pemeliharaan dan mengoperasikan alutsista (alat utama sistem persenjataan) terutama untuk pesawat-pesawat fighter yang berasal dari negeri “Paman Sam” tersebut. Akhirnya pada saat itu kita menoleh ke Rusia dengan pesawat tempur Sukhoi. Tapi masalah tidak berhenti sampai disini, membeli alutsista dari luar negeri tetap memakan biaya yang mahal dalam hal perawatan, pembelian suku cadang, pelatihan awak dan crew yang harus dilakukan di luar negeri. Tentu kita bisa menghemat anggaran negara apabila alutsista yang dibutuhkan bisa diproduksi di dalam negeri, dan tentu apabila bisa diproduksi di dalam negeri kita tidak perlu takut dengan adanya embargo militer dari negara lain. Bahkan kita bisa menggunakan industri pertahanan kita sebagai bargaining power dengan negara lain.

Indonesia sendiri sebenarnya sudah mempunyai beberapa industri strategis yang produknya sudah digunakan sebagai alat-alat pertahanan seperti PT Dirgantara Indonesia (PT DI), PT Pindad, PT PAL, dan PT Dahana yang semuanya merupakan Badan Usaha Milik Negara Industri Strategis (BUMNIS). Industri-industri tersebut sebenarnya sudah berdiri sejak lama, bahkan beberapa diantaranya ada yang sudah beroperasi sejak jaman kolonial Hindia Belanda. Hingga sekarang industri-industri tersebut sudah mampu memproduksi berbagai macam alutsista yang kualitasnya sudah mendapatkan pengakuan dari dunia. Tengok saja PT DI dimana salah satu pesawatnya yaitu CN-235, komuter bermesin turboprop ganda sudah dioperasikan baik untuk keperluan sipil maupun militer di negara-negara seperti Uni Emirat Arab (UEA), Korea Selatan, Malaysia, Filipina, Venezuela, dan Brunei. Belum lagi PT Pindad dengan Senapan Serbu SS-2 yang beberapa kali menjuarai lomba tembak tingkat regional Asean mengalahkan M16A2. Di luar BUMNIS kita mempunyai PT Sritex (industri swasta) yang mampu membuat berbagai macam pakaian untuk kebutuhan militer dengan kapasitas produksi mencapai 26.303 ton/tahun, yang hasilnya sudah di ekspor ke berbagai negara seperti Jerman, Inggris, UEA, Austria, Belanda, dan lain sebagainya. Bahkan sudah ditunjuk untuk menjadi partner resmi NATO (North Atantic Treaty Organisation) di luar kawasan Eropa.

Sekarang pertanyaannya bagaimana keadaan industri-industri tersebut saat ini?

Kenyataan yang terjadi sekarang justru berbanding terbalik dengan prestasi-prestasi yang pernah diukir oleh industri-industri tersebut. Sebagian dari industri-industri tersebut sekarang berada dalam kondisi yang “mengenaskan” bahkan berbagai macam fasilitas dan sumberdaya yang mereka punya terancam mubazir karena sepinya permintaan yang datang, lebih ironisnya lagi yang kurang justru permintaan penyediaan alutsista untuk kebutuhan dalam negeri oleh TNI dan POLRI. Tengok saja PT PAL dimana teknologi perakitan kapal militernya (yang sudah mampu memproduksi kapal perang sendiri seperti FPB 57) menjadi mubazir karena sepinya permintaan yang berasal dari dalam negeri, sehingga divisi kapal perangnya sekarang digunakan untuk membuat kapal niaga. Masalah ini salah satunya disebabkan oleh minimnya anggaran pertahanan di Indonesia yang di tahun 2009 hanya 33,6 triliun atau sekitar 0,68% dari PDB, walapun pada tahun 2010 direncanakan akan dinaikkan 7 triliun menjadi 40,6 triliun, tetapi ini pun masih jauh dari cukup. Bandingkan saja dengan Malaysia yang mengalokasikan 5% dari PDB mereka untuk anggaran pertahanan, bahkan Singapura negara dengan penduduk hanya 4 juta jiwa, pada tahun 2009 mengalokasikan dana sebesar 4,4 miliar US$ atau setara dengan 45 triliun rupiah untuk anggaran pertahanannya. Bahkan dari anggaran pertahanan Indonesia yang sangat minim, 70% dari anggaran tersebut digunakan untuk perawatan personel atau belanja rutin pegawai.

Kemudian setelah krisis moneter yang terjadi sesudah tahun 1997 beberapa industri strategis mengalami goncangan yang sangat hebat akibat naiknya biaya produksi, sehingga industri seperti PT DI harus merestrukturisasi karyawannya yang semula berjumlah 15.700 orang, tinggal menjadi 3.700 orang saja. Kemalangan pun masih berlanjut dengan menumpuknya hutang dan kepercayaan bank untuk memberikan pinjaman yang menurun.

Petaka krisis moneter bagi industri strategis tidak berhenti sampai disitu. Melihat keadaan tersebut pemerintah malah bukan membantu industri-industri tersebut dengan memberikan kontrak-kontrak jangka panjang, yang terjadi justru Kementrian BUMN menyuruh mereka untuk berjualan dengan target mengejar profit, tidak ada stimulus apa pun dari pemerintah di masa-masa sulit seperti sekarang, yang terjadi hanyalah kontrak-kontrak jangka pendek yang selalu terbentur dengan masalah anggaran. Padahal dukungan dari pemerintah sangat penting dalam menjaga keberlangsungan hidup industri strategis pertahanan nasional. Salah satunya adalah dengan membuat grand strategy, dengan cara memberikan kontrak-kontrak jangka panjang kepada industri strategis, sehingga mereka dapat berproduksi secara konsisten, berkesinambungan, dan dapat terus melakukan pengembangan.

Masalah berikutnya adalah kurangnya koordinasi atau interaksi yang terpadu antara para pemegang kepentingan atau stakeholders yang ada di dalam industri strategis ini. Stakeholders yang dimaksud adalah  industri strategis itu sendiri (PT DI, Pindad, PT PAL, PT Dahana), lembaga pendidikan (UI, ITB, ITS), lembaga penelitian (LUK, LAGG, BTMP, LHI) dan lembaga sertifikasi (DSKAU, KemenHub) yang kesemuanya berpusat pada koordinasi pembuat kebijakan (pemerintah, contoh BPPT). Dapat dilihat dalam gambar:

Kurangnya koordinasi yang terjadi di antara para stakeholders, menyebabkan para pemegang stakeholders berjalan sendiri-sendiri. Contoh: industri strategis melakukan penelitian sendiri sehingga penelitian dari lembaga penelitian tidak terpakai, yang berakibat penelitian yang dihasilkan kurang maksimal dan lembaga penelitian minim order penelitian dari industri strategis, hal ini berimbas pada kualitas dari pengembangan produk yang dihasilkan. Kemudian akibat lembaga penelitian minim order, lembaga pendidikan tidak dapat menyalurkan orang-orangnya untuk melakukan penelitian.

Contoh lainnya adalah industri strategis melakukan rekruitmen sumber daya manusia sendiri, dan kurang berkoordinasi dengan lembaga pendidikan yang ada. Akibat kurangnya koordinasi dengan lembaga pendidikan, industri strategis kesulitan mencari sumber daya manusia yang handal. Bagi lembaga pendidikan mereka kesulitan untuk menyalurkan lulusan-lulusan mereka ke industri-industri strategis tersebut. Akibatnya lulusan-lulusan handal dari lembaga pendidikan akhirnya banyak yang lari ke luar negeri (Contoh: lulusan perguruan tinggi kita banyak yang bekerja ke Malaysia).

Akibat kurangnya sumber daya manusia yang handal dan kualitas pengembangan produk dari penelitian yang kurang mumpuni, tidak banyak produk-produk unggulan yang dapat dihasilkan untuk disertifikasi, sehingga lembaga sertifikasi keberadaannya menjadi kurang maksimal.

Disanalah tugas pemerintah sebagai regulator atau pembuat kebijakan untuk melakukan koordinasi kepada para stakeholders yang ada sehingga mereka dapat bekerja beriringan satu sama lain dan menghasilkan kinerja yang maksimal.

Rancangan Undang-Undang tentang Revitalisasi Industri Strategis Pertahanan dan Keamanan Nasional

Dengan dikeluarkannya Inpres Nomor 1 tahun 2010 tentang Percepatan Pelaksanaan Prioritas Pembangunan Nasional tahun 2010 yang menginstruksikan Kementrian Pertahanan RI untuk menyerahkan Rancangan Undang-undang tentang Revitalisasi Industri Strategis Pertahanan dan Keamanan Nasional kepada Badan Legislasi Nasional menjadikan peran industri pertahanan diperkuat oleh industri-industri pendukung dan industri-industri strategis lainnya. Diharapkan dengan adanya UU tersebut dapat memberikan iklim segar bagi para produsen alutsista, penentu kebijakan dan para pengguna produk alutsista. Menhan menyatakan bahwa revitalisasi industri pertahanan merupakan sesuatu yang penting sehingga pemerintah sepakat untuk meningkatkan regulasi dalam bentuk UU. Rencananya UU tersebut akan menjadi payung hukum bagi kegiatan revitalisasi industri pertahanan dan industri penunjang, seperti sektor keuangan dan pendanaan.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Berbagai Cara Mempelajari Pluralisme

Berbagai Cara Mempelajari Pluralisme

Kalau boleh dibilang ini mungkin sekuel kedua tulisan saya mengenai pluralisme dan multikulturalisme (tulisan yang pertama bisa dilihat di notes saya). Mengangkat tulisan ini sebenarnya sudah bukan hal yang baru bagi saya karena sudah lama saya mempelajari dan membaca tulisan-tulisan mengenai pluralisme. Akan tetapi saya mau mengangkatnya lagi sekarang karena masyarakat dikejutkan kembali oleh kejadian yang terjadi di Bekasi akhir-akhir ini yang meimpa jemaat HKBP dan sekarang kembali menimbulkan pertanyaan “Masihkah ada toleransi di negeri ini?”. Saya sendiri beranggapan sebenarnya banyak masyarakat yang masih memperjuangkan toleransi dan pluralisme di Indonesia melalui caranya masing-masing. Yang ingin saya garis bawahi disini adalah “melalui caranya masing-masing”. Inilah yang membuat saya ingin berbagi ide dan pengalaman melalui tulisan ini.

Selama ini kita mengetahui bahwa gerakan anti diskriminasi dan pluralisme yang kita lihat di berita-berita baik cetak maupun elektronik banyak dilakukan oleh aktivis-aktivis HAM yang bergerak di bidang advokasi dan kebijakan. Mereka melakukannya melalui tulisan-tulisan dan diskusi-diskusi publik yang dilakukan di ruang-ruang publik baik secara formal maupun informal. Tengok saja lembaga-lembaga non-pemerintah (NGO) yang banyak melakukan gerakan ini seperti Setara Institute, Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika (ANBTI),  dan Lembaga Bantuan Hukum (YLBHI, LBHJ, dan LBHM) yang banyak tersebar di Indonesia khususnya di kota-kota besar. Namun saat ini saya tidak akan membahas gerakan pluralisme dan HAM yang dilakukan oleh lembaga-lembaga tersebut, tapi saya akan membahas gerakan yang dilakukan oleh para seniman dan para pelaku industri kreatif.

Apabila saya melakukan kilas balik sebentar ke masa remaja saya ketika di Bandung. Saat itu saya sebenarnya bukanlah orang yang senang memikirkan hal-hal serius seperti ini. Ketika itu saya lebih suka hangoutbersama teman-teman, pergi ke festival-festival seni yang banyak sekali jumlah acaranya di kota Bandung, dan yang terutama saya maniak dengan segala sesuatu yang berbau indie, baik musik, film, ataupun majalah yang memang banyak jumlahnya di kota Bandung. Di salah satu pentas seni saya melihat grup yang bernama Superman Is Dead (SID) asal Bali yang membawakan lagu-lagu yang berjudul “Kuat Kita Bersama” ataupun “Luka Indonesia”, dimana dalam liriknya kaya akan pesan-pesan tentang kemajemukan bangsa dan pesan-pesan perdamaian. Pada saat  itu saya tidak benar-benar memikirkan liriknya tetapi malah sibukmossing (saling membenturkan badan dengan penonton lain) dan berteriak-teriak mengulangi liriknya tanpa peduli akan makna didalamnya.  Apa itu pluralisme, multikulturalisme, kemajemukan, dan perdamaian saya tidak begitu peduli pada saat itu saya hanya sibuk menikmati lagunya yang ber-genre punk rock.

Lalu masa-masa indah itupun berganti saya merantau ke Depok dan kuliah di FHUI di sana saya belajar tentang hukum dan mencoba untuk menjadi volunteer di salah satu LBH untuk menambah pengalaman, bikin tulisan dan penelitian kecil-kecilan di kampus, pada saat itu ketika saya membuat salah satu tulisan tentang perda-perda yang ada di Indonesia saya terbelalak dengan begitu banyaknya perda yang sangat mendiskriminasi kaum minoritas yang ada di negeri ini. Tapi bukan itu yang membuat saya begitu tergugah dengan kondisi bangsa yang semakin intoleran sekarang ini. Tetapi sebuah film indie dari Bandung yang berjudul cin(T)a yang dibuat oleh sebuah industri kreatif di Bandung film itu bercerita sesuatu hal yang tidak berani diangkat oleh film-film lain yaitu mengangkat hal kerukunan beragama dengan berbagai macam problema yang di alami oleh sebagian masyarakat yang ada di negeri ini seperti kesempatan yang tidak sama bagi minoritas dan tidak terkecuali dalam hal percintaan beda agama (yang mau download filmnya bisa dihttp://www.pandumusica.info/2010/04/download-film-cinta.html). Di film tersebut dengan cerdas sang sutradara tidak melakukan pendangkalan makna, dan berhasil membawa kita kepada realita yang  benar-benar ada dan nyata di tengah-tengah masyarakat kita.

Dengan tulisan ini saya ingin mengangkat bagaimana kondisi kemajemukan bangsa dan pluralisme yang ada di Indonesia tidak hanya bisa dipelajari melalui buku dan berita tetapi juga bisa melalui musik, film dan karya seni lainnya. Well semoga bermanfaat😉

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Mengapa Multikulturalisme menjadi penting?

Tulisan ini saya dedikasikan untuk seluruh pejuang pluralisme, para aktivis, dosen, NGO (Non Government Organisation), rekan-rekan mahasiswa, dan senior-senior yang sudi berdiskusi dan membagi pemikirannya dengan saya mengenai pluralisme dan multikulturalisme. Sehingga saya yang masih hijau ini mempunyai wawasan dan konsep yang cukup utuh (walaupun masih banyak yang harus saya pelajari) mengenai apa itu multikulturalisme. Dalam tulisan ini saya akan mengungkapkan sedikit pengetahuan yang saya peroleh mengenai sesuatu hal yang akhir-akhir ini saya merasa sangat tertarik untuk mendalaminya.

Mengapa Multikulturalisme menjadi penting?
Menurut W. Kymlika, Multikulturalisme adalah “pengakuan pluralisme budaya yang menumbuhkan kepedulian untuk mengupayakan agar kelompok-kelompok minoritas terintegrasi ke dalam masyarakat dan masyarakat mengakomodasi perbedaan budaya kelompok-kelompok minoritas agar kekhasan identitas mereka diakui”. Dalam hal ini fokus kepedulian diarahkan pada kelompok etnis, kelompok minoritas, termasuk perempuan.

Arah multikulturalisme adalah menuju pada upaya untuk menciptakan, menjamin dan mendorong pembentukan ruang publik yang memungkinkan beragam komunitas bisa tumbuh berkembang disesuaikan dengan kemampuan jangkauan langkah masing-masing. Ruang publik memiliki dua dimensi. Pertama ialah ruang kebebasan politik dan kesamaan. Kedua, ruang publik adalah dunia bersama, artinya semua bentuk institusi dan lingkup yang memberi konteks permanen bagi kegiatan warga negara. Dengan demikian ruang publik tidak bisa dilepaskan dari pengakuan dan jaminan akan pluralitas serta aksi politik.

Sekarang setelah kita mengetahui konsep dari multikulturalisme kembali ke pertanyaan awal, mengapa multikulturalisme itu menjadi penting?

Pertama, adanya penindasan atau penafikan atas dasar kepemilikan etnis, agama atau bentuk minoritas lainnya. Dikotomi antara “kita” (kelompok dominan) dan “mereka” (di luar kelompok dominan) dilembagakan dalam rangka menjauhkan kelompok minoritas dari posisi kekuasaan. Pelembagaan diskriminasi ini terjadi di wilayah-wilayah penting dalam kehidupan seperti pekerjaan, pendidikan, jabatan-jabatan publik dan hubungan-hubungan sosial lain (Arbuckle 1993:6). Agar diskriminasi ini memperoleh legitimasi, kelompok-kelompok minoritas secara budaya atau etnis ditekan dan dianggap sebagai tidak berhak sehingga kehilangan “self worth”.

Kedua, istilah minoritas sengaja dipakai secara sistematis untuk memojokkan ke posisi marginal atau memberi label “tidak bernilai penting” dalam hubungan dengan kekuatan politik dominan. Dengan demikian perasaan rendah diri dan tak berdaya semakin mendalam terpupuk dalam diri setiap kelompok minoritas.

Ketiga, diskriminasi terhadap kelompok minoritas itu semakin membuat mereka terpinggirkan dari pengambilan keputusan (menurut penelitian saya ini sangat terlihat pada perda-perda diskriminatif di Indonesia).

Oleh karena itu semangat multikulturalisme mau menjawab kebutuhan dasar kelompok-kelompok minoritas untuk mengembangkan identitas budaya dan penghargaan diri. Perjuangan kita para pejuang pluralisme masih panjang mengingat masyarakat Indonesia saat ini masih ada orang-orang yang masih tidak mau mengakui keberadaan minoritas di masyarakat mereka karena tidak mau kehilangan penikmatan-penikmatan dari posisi mereka sebagai masyarakat dominan. Tetapi saya percaya bahwa hal ini tidak akan pernah berubah kalau tidak ada orang yang mau memperjuangkan semangat multikulturalisme, oleh karena itu saya (dan berharap kepada para pluralis yang lain) jangan pernah menyerah (hahaha kaya lagunya D’Masiv) dalam memperjuangkan semangat multikulturalisme ini. Akhir kata seperti slogan mahasiswa UI yang sering saya dengar, SELAMAT BERJUANG (penulis adalah mahasiswa kampus perjuangan yang sangat dia banggakan Universitas Indonesia). ^_^

*Notes: gua menulis klo gua mahasiswa UI bukan dalam rangka politik identitas ya.. karena gua sendiri penentang politik identitas.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Tinjauan Sosiologis-Yuridis (Kenapa mereka ingin merdeka?)

Ini tulisan yang saya buat ditengah-tengah keadaan frustasi blajar hapid.. monggo dibaca.. ^_^

Banyak diantara kita sekarang ini memperhatikan permasalahan hukum yang ada di pusat (Jakarta), seperti kasus Cicak versus Buaya (Bibi-Chandra), kasus Antasari Azhar atau kasus Bank Century. Tetapi pernahkah kita memikirkan kasus-kasus yang menimpa saudara-saudara kita yang ada di belahan lain bumi Indonesia ini (contoh: Kawasan Indonesia Timur), tanpa kita sadari masyarakat-masyarakat yang ada di sana telah mengalami pelanggaran hukum dan pelanggaran hak asasi yang luar biasa. Dalam tulisan ini saya akan membahas hal tersebut sekedar untuk mengingatkan kita bahwa di luar pulau Jawa banyak terjadi penindasan yang terjadi terhadap saudara-saudara kita yang ada di Indonesia Timur bahkan sering aparat hukum kita malah menjadi seperti penjajah di negeri sendiri dan masyarakat yang ada di sana hanya bisa menerima perlakuan tidak adil tersebut karena tidak mengerti bahwa hak-hak mereka sebenarnya telah benar-benar dilanggar.

Kita mungkin apabila melihat pemberontakan-pemberontakan (rebellion) yang ada di Indonesia Timur sering melihat hal tersebut sebagai sebuah tindakan makar yang harus diberantas, tetapi pernahkah kita terpikir kenapa mereka meminta kemerdekaan dan merasa dirugikan bergabung dengan NKRI. Mungkin kasus berikut dapat memberikan penjelasan akan hal tersebut.

Kasus PT. Freeport:
PT. Freeport Indonesia adalah sebuah perusahaan pertambangan yang mayoritas sahamnya dimiliki Freeport-McMoRan Copper & Gold Inc. PTFI merupakan perusahaan penghasil emas terbesar di dunia. Kegiatannya dilakukan di dua tempat yakni tambang Erstberg (sejak 1967) dan tambang Grasberg (sejak 1988) di kawasan Tembaga Pura, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua. Kontrak karya dengan PT Freeport pertama kali dilakukan pada masa pemerintahan Soeharto pada tahun 1967 untuk masa 30 tahun dan diperpanjang lagi 30 tahun berikut dua kali perpanjangan 10 tahun pada tahun 1991. Ketika cadangan Grasberg ditemukan terdapat cadangan sebesar 200 juta ton metrik kubik.

Masyarakat
Masyarakat yang terdapat di lokasi penambangan PT Freeport adalah suku Amungme dan suku Kamoro yang terdiri dari 13.000 orang.
Suku tersebut mempunyai sebuah gunung suci yang dinamakan Nemang Kawi yang berarti bebas perang. Gunung inilah yang menjadi pusat penambangan PT Freeport

Masalah
Tambang Ertsberg dang Grasberg yang dibangun oleh PT Freeport mengambil hak ulayat masyarakat adat setempat.
Berdasarkan kontrak karya yang dibuat pemerintah Indonesia hanya memiliki saham 9,36% dan PT Freeport McMoran sebesar 81,28% dan masyarakat adat Papua sendiri hanya diberikan 1% keuntungan tiap tahunnya.
Kesehatan masyarakat adat setempat yang sering mendulang di sekitar wilayah pembuangan limbah PT Freeport menjadi sangat berkurang karena limbah tersebut mengandung bahan berbahaya.
Seringkali ditemui kasus masyarakat setempat diteror, pondok-pondok mereka dibakar, hasil bercocok tanamnya dirusak bahkan mereka yang dianggap mengganggu wilayah PT Freeport diusir oleh petugas kepolisian dari negara kita sendiri. Padahal masyarakat tersebut sudah menempati wilayah tersebut selama bergenerasi-generasi, sehingga masyarakat setempat terpaksa mengungsi ke daerah lain.

Bayangkan apabila anda yang mengalami nasib seperti itu apakah anda akan terima saja dengan perlakuan tersebut? Apakah anda tidak akan berontak dengan situasi tersebut?

Dari sini kita dapat ambil kesimpulan bahwa kita tidak dapat begitu saja menumpas pemberontakan dengan hanya menangkap dan menghukum para pemberontak tersebut, tetapi yang harus kita lihat adalah mengapa mereka sampai mau memisahkan diri dari kita. Kalau dengan bergabung dengan kita yang mereka dapat hanya penindasan bukankah hal yang lumrah apabila mereka ingin memisahkan diri dari kita? Sudah saatnya kita lebih memperhatikan nasib saudara-saudara kita yang ada di belahan Indonesia bagian Timur kalau kita masih ingin mereka bergabung dengan NKRI.

Silahkan agan-agan ditunggu commentny.. Klo uda cendolnya jangan lupa.. ^_^

Dipublikasi di Uncategorized | 1 Komentar

Prospek Bisnis Masa Depan, Perdagangan Senjata dan Pembiayaan Perang

Prospek Bisnis Masa Depan, Perdagangan Sejata dan Pembiayaan Perang

Tulisan ini saya buat ketika mengetahui bahwa ada Expo Wirausaha Muda Mandiri yang diselenggarakan oleh salah satu Bank terkemuka di Indonesia. Acara itu diselenggarakan untuk menumbuhkan minat wirausaha di dalam jiwa para pemuda Indonesia. Tentu kita semua sadar bahwa untuk memulai sebuah wirausaha kita harus mengetahui bisnis seperti apa yang akan kita lakukan dan barang apa yang akan kita jual (the stuff we sale). Berangkat dari cita-cita masa kecil saya untuk menjadi penjual senjata tingkat Internasional dan hobi saya sebagai pemerhati dunia kemiliteran dan sejarah perang. Saya melihat suatu prospek bisnis yang mungkin tidak banyak anak muda Indonesia yang melihatnya sebagai sebuah peluang yang bisa menghasilkan keuntungan, tetapi dalam hal ini saya melihatnya bukan hanya sebagai bisnis yang bisa menghasilkan uang tetapi juga sebagai sebuah cara bagi diri kita untuk bisa merasakan bagaimana rasanya mengatur jalannya sejarah umat manusia di tangan kita sendiri, dimana dalam bisnis ini kita bisa mengatur hidup matinya seorang manusia, nasib sebuah bangsa, berdiri atau runtuhnya sebuah negara, bahkan keberlangsungan sebuah ideologi, tentu untuk melakukan itu semua tidak bisa dilakukan dengan sembarang cara mengingat tidak banyak orang atau bahkan negara sekalipun yang bisa melakukannya kecuali Amerika dan Presidennya dan mungkin Cina sebentar lagi, apabila negara tersebut terus mendapat kemajuan dan konsisten dengan kekuatannya seperti sekarang (sepengamatan saya selama ini). Untuk itu saya akan memberikan beberapa contoh orang-orang yang telah berhasil melakukan bisnis ini dan potensi yang ada di dalam negara kita (Indonesia) yang bisa kita jadikan sebuah modal yang kelak bisa kita gunakan. Mengingat sebenarnya negara kita punya potensi untuk itu dan sudah ada modalnya tapi sayang sekali sangat sedikit atau bisa saya katakan tidak pernah ada orang di Indonesia yang berminat untuk menekuni bisnis ini padahal menurut saya ini sungguh potensi yang sangat besar, sayang kalau disia-siakan seperti sekarang. Kita harus mulai melihat sebuah peperangan secara komperhensif. Perang tidak hanya saling bunuh atau saling menjatuhkan diantara pihak-pihak yang bertikai. Kita harus bisa menyelami makna dari sebuah peperangan sehingga kita bisa melihat dengan jernih potensi yang ada dari kekeruhan sebuah peperangan.

Setelah melalui riset yang cukup mendalam dari beberapa buku yang saya baca (mulai sejak SMA sampai sekarang) ini adalah bahan-bahan yang bisa saya sajikan untuk saat ini, mengingat saya membuat tulisan ini mendadak disaat waktu liburan panjang yang senggang, semoga bermanfaat. ^__^
Tak lengkap rasanya bagi saya yang mempelajari sejarah perang tanpa mengetahui kisah-kisah yang ada di balik layar dari perang tersebut. Salah satunya yang saya pelajari adalah sepak terjang orang-orang yang diam-diam mengendalikan sebuah peperangan. Berdasar telaah yang saya pelajari selama ini saya menemukan beberapa nama yang mempunyai andil besar dalam mengobarkan sebuah peperangan diantaranya adalah JP Morgan, Jr., John D. Rockefeller, Rochtschild, dan Paul Warburg. Orang-orang ini bukanlah jenderal perang yang tahu bagaimana cara berperang, merekapun bukan seorang pimpinan pemerintahan atau politikus yang pandai menggertak di panggung diplomasi, tapi tanpa kita sadari mereka telah mempengaruhi sejarah umat manusia hingga menjadi seperti sekarang ini. Mereka adalah bankir kelas dunia yang fasih melempar dadu dan mendulang untung dari peperangan. Orang-orang ini melakukan bisnis berupa membeli dan memperbaiki senjata dan peralatan tempur, serta mendatangkan peralatan pendukung lainnya, barang-barang tersebut bisanya mereka berikan berupa dana talangan dan tentu dana talangan ini ada bunganya (yang cukup besar). Sebagai contoh dalam Perang Dunia 1 (The Great War) dana yang mengalir ditaksir mencapai miliaran dollar. Para bankir ini sama sekali tak khawatir kehilangan uangnya, karena merekalah yang menentukan siapa yang menang dan dan kapan perang itu berakhir (bayangkan bila anda mempunyai kemampuan untuk itu). Dimata mereka perang memang tak ubahnya sebagai mesin pemutar uang. Memang ini terdengar seperti teori konspirasi tapi seperti yang kita pelajari apabila ingin mengungkap suatu fakta/peristiwa, dalam ilmu hukum, akuntansi atau kepolisian kita mengenal yang namanya tahap penyelidikan, dan yang perlu kita selidiki disini “Cukup ikuti saja kemana arah jalannya uang tersebut, maka Anda akan menemukan jalan ke arah itu…” . Dan dari data-data yang saya baca memang ada aliran dana pada masa perang yang mengalir dari konglomerat-konglomerat tersebut.

John Pierpont “Jack Morgan”, Jr.
Orang lulusan Harvard sekaligus putra dari JP Morgan, Sr, ini tak lain adalah konglomerat dan bankir papan atas di Amerika. JP Morgan adalah pemilik utama perusahaan baja terkemuka di dunia, US Steel Corp, pemilik General Electric, grup perusahaannya berlogo JP Morgan& Co. Semasa perang Sipil Amerika ia pernah menjual senjata kepada pihak militer dengan harga miring, 22 dollar per pucuk. Setelah ditelusuri senjata-senjata ini ternyata merupakan senjata rekondisi yang pernah ia beli dari pejabat militer seharga 3,5 dollar per pucuk. Ia juga adalah penyandang utama ongkos PD 1, yang oleh karenanya sering dikatakan bahwa tanpa dirinya PD 1 tidak akan bisa disebut “The Great War”. Lalu tak lama setelah perang meletup ia juga menggelontorkan pinjaman kepada Rusia sebesar 12 juta US dollar. Setahun kemudian, pada 1915, ia juga memberikan pinjaman kepada Perancis sebesar 50 juta US dollar. Bahkan dia pula yang menalangi seluruh pembelian senjata yang dilakukan pemerintah Inggris di berbagai perusahaan di AS. Di samping itu, dengan 2200 bank yang ada dalam sindikasinya, ia masih memberikan dana talangan sebesar 500 juta US dollar kepada pasukan Sekutu agar berhasil mencapai kemenangan.
Paul Warburg
Pendiri Bank Sentral AS ini sendiri adalah pemilik dari General Motors, IG Farben, dan Standard Oil. Pada dasawarsa 30an dia memberikan bantan finansial yang sangat besar kepada Hitler dan Nazi Jerman. Dukungannya dapat dilihat dari Interessen Gemeinschaft Farbenindustrie AG yang didirikan pada 25 Desember 1925 yang digunakan untuk mendukung ambisi ekspansi militer NAZI Jerman yang digunakan untuk memperkuat kekuatannya di tanah Eropa. Industri-industri ini sekarang bernama BASF, Bayer, Hoechast, AGFA, Griesheim-Elektron dan Weiler Ter Meer.

Alutsista Dalam Negeri Prospek Bisnis Masa Depan
Tanpa kita sadari selama ini bangsa Indonesia telah mempunyai beberapa Industri yang menghasilkan produk-produk senjata dan perlengkapannya yang kualitasnya sudah diakui oleh dunia Internasional. Industri-industri tersebut adalah PT PAL, PT Pindad, PT Dahana, PT DI, yang semuanya merupakan Badan Usaha Milik Negara Industri Strategis (BUMNIS). Keempat perusahaan negara ini telah menghasilkan beragam alat utama sistem senjata (alutsista) yang dioperasikan oleh TNI dan juga POLRI. Misalnya PT Pindad telah menghasilkan senapan serbu SS1 dan penerusnya SS2 berkaliber 12,7mm serta PTDI yang telah menghasilkan pesawat CN-235 (Maritime Patrol Aircraft) dilengkapi dengan Radar Warning Receiver, Chaff Flare Dispenser System, alat bantu Navigasi TCAS dan NC-212 yang dilengkapi dengan search radar, FLIR, Tactical Coordinator Console (TACCO), FMS, IRS/GPS, data handling, handled camera bahkan PTDI sekarang memulai produksi rudal SUT yang digunakan sebagai torpedo kapal selam. Bahkan seperti yang diketahui baru-baru ini Pindad memproduksi 145 keandaraan personel Panser APS 6X6 Anoa yang mempunyai ketebalan baja 8mm dan 10mm. Bahkan yang lebih mengagumkan PT PAL sekarang sudah mengembangkan FPB (Fast Boat Patrol) 60 yang mempunyai konsep sebagai kapal siluman (stealth).

Inilah teman-teman aset dan kesempatan yang harus kita manfaatkan. Apakah kita ingin terus tertinggal dengan negara-negara maju yang sudah menyadari betapa penting persenjataan sebagai sebuah kekuatan baik dari sisi ekonomi maupun politik. Memang kita ingin dibilang sebagai orang yang cinta damai, tapi ingat motto mafia Italy yang terkenal “Pisahkan perasaan pribadi dan kepentingan bisnis..”
Semoga bermanfaat dan membuka wawasan.. ^_^

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Dipublikasi di Uncategorized | 1 Komentar