Revitalisasi Industri Strategis Pertahanan Nasional

Revitalisasi Industri Strategis Pertahanan Nasional

Oleh, Gede Aditya Pratama

Disampaikan dalam Rangkaian Acara Seminar SIMI, di Lingkungan FHUI

“Bahwa satu-satunja hak milik Nasional Republik jang masih utuh tidak berubah-ubah, meskipun harus mengalami segala matjam soal dan perubahan, hanjalah Angkatan Perang Republik Indonesia (Tentara Nasional Indonesia).”

- Surat Panglima Besar Jenderal Sudirman kepada Presiden Soekarno, 1 Agustus 1949. -

Indonesia adalah negara besar yang luas wilayahnya terbentang sepanjang 3.977 mil antara Samudera Hindia dan Samudera Pasifik dan terdiri dari 17.508 pulau. Oleh karenanya Indonesia menjadi salah satu negara penting yang memiliki arti strategis dan taktis tersendiri karena berada di posisi yang amat strategis yaitu di antara dua benua dan dua samudera, yang dimana di dalamnya terkandung berbagai macam kekayaan alam yang melimpah. Tentu untuk bisa memanfaatkan dan memainkan peran Indonesia sebagai negara yang besar, diperlukan instrumen pertahanan yang kuat. Instrumen pertahanan yang kuat selain dimanfaatkan untuk menjaga kedaulatan dan keamanan negara, bisa juga digunakan sebagai bargaining posisition dalam diplomasi dengan negara-negara lain.

Untuk membangun pertahanan yang kuat diperlukan industri pertahanan yang mampu menyokong kebutuhan pertahanan dalam negeri. Negara yang tidak mampu menyediakan kebutuhan pertahanannya sendiri dan terus bergantung pada supply alat pertahanan dari luar negeri, tidak akan menjadi negara yang mandiri karena suatu waktu bisa saja hubungan kita dengan negara dimana alat-alat pertahanan kita berasal memburuk, seperti yang terjadi pada saat Amerika memberikan embargo militernya terhadap Indonesia akibat kasus penghilangan aktivis Timor Leste tahun 1997-1998 oleh Kopassus. Pada saat itu kita “kelimpungan” bagaimana melakukan pemeliharaan dan mengoperasikan alutsista (alat utama sistem persenjataan) terutama untuk pesawat-pesawat fighter yang berasal dari negeri “Paman Sam” tersebut. Akhirnya pada saat itu kita menoleh ke Rusia dengan pesawat tempur Sukhoi. Tapi masalah tidak berhenti sampai disini, membeli alutsista dari luar negeri tetap memakan biaya yang mahal dalam hal perawatan, pembelian suku cadang, pelatihan awak dan crew yang harus dilakukan di luar negeri. Tentu kita bisa menghemat anggaran negara apabila alutsista yang dibutuhkan bisa diproduksi di dalam negeri, dan tentu apabila bisa diproduksi di dalam negeri kita tidak perlu takut dengan adanya embargo militer dari negara lain. Bahkan kita bisa menggunakan industri pertahanan kita sebagai bargaining power dengan negara lain.

Indonesia sendiri sebenarnya sudah mempunyai beberapa industri strategis yang produknya sudah digunakan sebagai alat-alat pertahanan seperti PT Dirgantara Indonesia (PT DI), PT Pindad, PT PAL, dan PT Dahana yang semuanya merupakan Badan Usaha Milik Negara Industri Strategis (BUMNIS). Industri-industri tersebut sebenarnya sudah berdiri sejak lama, bahkan beberapa diantaranya ada yang sudah beroperasi sejak jaman kolonial Hindia Belanda. Hingga sekarang industri-industri tersebut sudah mampu memproduksi berbagai macam alutsista yang kualitasnya sudah mendapatkan pengakuan dari dunia. Tengok saja PT DI dimana salah satu pesawatnya yaitu CN-235, komuter bermesin turboprop ganda sudah dioperasikan baik untuk keperluan sipil maupun militer di negara-negara seperti Uni Emirat Arab (UEA), Korea Selatan, Malaysia, Filipina, Venezuela, dan Brunei. Belum lagi PT Pindad dengan Senapan Serbu SS-2 yang beberapa kali menjuarai lomba tembak tingkat regional Asean mengalahkan M16A2. Di luar BUMNIS kita mempunyai PT Sritex (industri swasta) yang mampu membuat berbagai macam pakaian untuk kebutuhan militer dengan kapasitas produksi mencapai 26.303 ton/tahun, yang hasilnya sudah di ekspor ke berbagai negara seperti Jerman, Inggris, UEA, Austria, Belanda, dan lain sebagainya. Bahkan sudah ditunjuk untuk menjadi partner resmi NATO (North Atantic Treaty Organisation) di luar kawasan Eropa.

Sekarang pertanyaannya bagaimana keadaan industri-industri tersebut saat ini?

Kenyataan yang terjadi sekarang justru berbanding terbalik dengan prestasi-prestasi yang pernah diukir oleh industri-industri tersebut. Sebagian dari industri-industri tersebut sekarang berada dalam kondisi yang “mengenaskan” bahkan berbagai macam fasilitas dan sumberdaya yang mereka punya terancam mubazir karena sepinya permintaan yang datang, lebih ironisnya lagi yang kurang justru permintaan penyediaan alutsista untuk kebutuhan dalam negeri oleh TNI dan POLRI. Tengok saja PT PAL dimana teknologi perakitan kapal militernya (yang sudah mampu memproduksi kapal perang sendiri seperti FPB 57) menjadi mubazir karena sepinya permintaan yang berasal dari dalam negeri, sehingga divisi kapal perangnya sekarang digunakan untuk membuat kapal niaga. Masalah ini salah satunya disebabkan oleh minimnya anggaran pertahanan di Indonesia yang di tahun 2009 hanya 33,6 triliun atau sekitar 0,68% dari PDB, walapun pada tahun 2010 direncanakan akan dinaikkan 7 triliun menjadi 40,6 triliun, tetapi ini pun masih jauh dari cukup. Bandingkan saja dengan Malaysia yang mengalokasikan 5% dari PDB mereka untuk anggaran pertahanan, bahkan Singapura negara dengan penduduk hanya 4 juta jiwa, pada tahun 2009 mengalokasikan dana sebesar 4,4 miliar US$ atau setara dengan 45 triliun rupiah untuk anggaran pertahanannya. Bahkan dari anggaran pertahanan Indonesia yang sangat minim, 70% dari anggaran tersebut digunakan untuk perawatan personel atau belanja rutin pegawai.

Kemudian setelah krisis moneter yang terjadi sesudah tahun 1997 beberapa industri strategis mengalami goncangan yang sangat hebat akibat naiknya biaya produksi, sehingga industri seperti PT DI harus merestrukturisasi karyawannya yang semula berjumlah 15.700 orang, tinggal menjadi 3.700 orang saja. Kemalangan pun masih berlanjut dengan menumpuknya hutang dan kepercayaan bank untuk memberikan pinjaman yang menurun.

Petaka krisis moneter bagi industri strategis tidak berhenti sampai disitu. Melihat keadaan tersebut pemerintah malah bukan membantu industri-industri tersebut dengan memberikan kontrak-kontrak jangka panjang, yang terjadi justru Kementrian BUMN menyuruh mereka untuk berjualan dengan target mengejar profit, tidak ada stimulus apa pun dari pemerintah di masa-masa sulit seperti sekarang, yang terjadi hanyalah kontrak-kontrak jangka pendek yang selalu terbentur dengan masalah anggaran. Padahal dukungan dari pemerintah sangat penting dalam menjaga keberlangsungan hidup industri strategis pertahanan nasional. Salah satunya adalah dengan membuat grand strategy, dengan cara memberikan kontrak-kontrak jangka panjang kepada industri strategis, sehingga mereka dapat berproduksi secara konsisten, berkesinambungan, dan dapat terus melakukan pengembangan.

Masalah berikutnya adalah kurangnya koordinasi atau interaksi yang terpadu antara para pemegang kepentingan atau stakeholders yang ada di dalam industri strategis ini. Stakeholders yang dimaksud adalah  industri strategis itu sendiri (PT DI, Pindad, PT PAL, PT Dahana), lembaga pendidikan (UI, ITB, ITS), lembaga penelitian (LUK, LAGG, BTMP, LHI) dan lembaga sertifikasi (DSKAU, KemenHub) yang kesemuanya berpusat pada koordinasi pembuat kebijakan (pemerintah, contoh BPPT). Dapat dilihat dalam gambar:

Kurangnya koordinasi yang terjadi di antara para stakeholders, menyebabkan para pemegang stakeholders berjalan sendiri-sendiri. Contoh: industri strategis melakukan penelitian sendiri sehingga penelitian dari lembaga penelitian tidak terpakai, yang berakibat penelitian yang dihasilkan kurang maksimal dan lembaga penelitian minim order penelitian dari industri strategis, hal ini berimbas pada kualitas dari pengembangan produk yang dihasilkan. Kemudian akibat lembaga penelitian minim order, lembaga pendidikan tidak dapat menyalurkan orang-orangnya untuk melakukan penelitian.

Contoh lainnya adalah industri strategis melakukan rekruitmen sumber daya manusia sendiri, dan kurang berkoordinasi dengan lembaga pendidikan yang ada. Akibat kurangnya koordinasi dengan lembaga pendidikan, industri strategis kesulitan mencari sumber daya manusia yang handal. Bagi lembaga pendidikan mereka kesulitan untuk menyalurkan lulusan-lulusan mereka ke industri-industri strategis tersebut. Akibatnya lulusan-lulusan handal dari lembaga pendidikan akhirnya banyak yang lari ke luar negeri (Contoh: lulusan perguruan tinggi kita banyak yang bekerja ke Malaysia).

Akibat kurangnya sumber daya manusia yang handal dan kualitas pengembangan produk dari penelitian yang kurang mumpuni, tidak banyak produk-produk unggulan yang dapat dihasilkan untuk disertifikasi, sehingga lembaga sertifikasi keberadaannya menjadi kurang maksimal.

Disanalah tugas pemerintah sebagai regulator atau pembuat kebijakan untuk melakukan koordinasi kepada para stakeholders yang ada sehingga mereka dapat bekerja beriringan satu sama lain dan menghasilkan kinerja yang maksimal.

Rancangan Undang-Undang tentang Revitalisasi Industri Strategis Pertahanan dan Keamanan Nasional

Dengan dikeluarkannya Inpres Nomor 1 tahun 2010 tentang Percepatan Pelaksanaan Prioritas Pembangunan Nasional tahun 2010 yang menginstruksikan Kementrian Pertahanan RI untuk menyerahkan Rancangan Undang-undang tentang Revitalisasi Industri Strategis Pertahanan dan Keamanan Nasional kepada Badan Legislasi Nasional menjadikan peran industri pertahanan diperkuat oleh industri-industri pendukung dan industri-industri strategis lainnya. Diharapkan dengan adanya UU tersebut dapat memberikan iklim segar bagi para produsen alutsista, penentu kebijakan dan para pengguna produk alutsista. Menhan menyatakan bahwa revitalisasi industri pertahanan merupakan sesuatu yang penting sehingga pemerintah sepakat untuk meningkatkan regulasi dalam bentuk UU. Rencananya UU tersebut akan menjadi payung hukum bagi kegiatan revitalisasi industri pertahanan dan industri penunjang, seperti sektor keuangan dan pendanaan.

About these ads

Tentang bichunclafor

Seorang Mahasiswa dan pemikir yang ingin membebaskan orang-orang yang terdiskriminasi dengan cara apapun..!!
Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s